JENIS-JENIS PENELITIAN
A. BERDASAR
FUNGSINYA
1.
Penelitian Dasar
Penelitian dasar (basic research) disebut juga
penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research)
adalah penelitian yang diperuntukan bagi pengembangan suatu ilmu pengetahuan
serta diarahkan pada pengembangan teori-teori yang ada atau menemukan teori
baru. Peneliti yang melakukan penelitian dasar memiliki tujuan mengembangkan
ilmu pengetahuan tanpa memikirkan pemanfaatan secara langsung dari hasil
penelitian tersebut. Penelitian dasar justru memberikan sumbangan besar
terhadap pengembangan serta pengujian teori-teori yang akan mendasari
penelitian terapan.
Penelitian dasar lebih diarahkan untuk mengetahui,
menjelaskan, dan memprediksikan fenomena-fenomena alam dan sosial. Hasil
penelitian dasar mungkin belum dapat dimanfaatkan secara langsung akan tetapi
sangat berguna untuk kehidupan yang lebih baik. Tujuan penelitian dasar adalah
untuk menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar, hukum-hukum ilmiah,
serta untuk meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah (Sukmadinata, 2005).
Tingkat generalisasi hasil penelitian dasar bersifat
abstrak dan umum serta berlaku secara universal. Penelitian dasar tidak
diarahkan untuk memecahkan masalah praktis akan tetapi prinsip-prinsip atau
teori yang dihasilkannya dapat mendasari pemecahan masalah praktis. Dengan kata
lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis. Contoh
penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan adalah penelitian
dalam bidang psikologi, misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi sikap dan perikalu manusia. Hasil penelitian tersebut sering
digunakan sebagai landasan dalam pengembangan sikap untuk merubah perilaku
melalui proses pembelajaran/pendidikan.
2.
Penelitian Terapan
Penelitian terapan atau applied research dilakukan
berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis, penerapan, dan pengembangan ilmu
pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata.
Penelitian terapan berfungsi untuk mencari solusi tentang masalah-masalah
tertentu. Tujuan utama penelitian terapan adalah pemecahan masalah sehingga
hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baik secara
individu atau kelompok maupun untuk keperluan industri atau politik dan bukan
untuk wawasan keilmuan semata (Sukardi, 2003). Dengan kata lain penelitian
terapan adalah satu jenis penelitian yang hasilnya dapat secara langsung
diterapkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menguji
manfaat dari teori-teori ilmiah serta mengetahui hubungan empiris dan analisis
dalam bidang-bidang tertentu. Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam
rumusan bersifat umum, bukan rekomendasi berupa tindakan langsung. Setelah
sejumlah studi dipublikasikan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu,
pengetahuan tersebut akan mempengaruhi cara berpikir dan persepsi para
praktisi. Penelitian terapan lebih difokuskan pada pengetahuan teoretis dan
praktis dalam bidang-bidang tertentu bukan pengetahuan yang bersifat universal
misalnya bidang kedokteran, pendidikan, atau teknologi. Penelitian terapan
mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan praktek baru serta
pengembangan metodologi untuk kepentingan praktis. Penelitian terapan dapat
pula diartikan sebagai studi sistematik dengan tujuan menghasilkan tindakan
aplikatif yang dapat dipraktekan bagi pemecahan masalah tertentu. Hasil
penelitian terapan tidak perlu sebagai suatu penemuan baru tetapi meupakan
aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada (Nazir, 1985). Akhir-akhir ini,
penelitian terapan telah berkembang dalam bentuk yang lebih khusus yaitu
penelitian kebijakan (Majchrzak, 1984). Penelitian kebijakan berawal dari
permasalahan praktik dengan maksud memecahkan masalah-masalah sosial. Hasil
penelitian biasanya dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan.
3.
Penelitian Evaluatif
Penelitian evaluatif pada dasarnya merupakan bagian
dari penelitian terapan namun tujuannya dapat dibedakan dari penelitian
terapan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan suatu program,
produk atau kegiatan tertentu (Danim, 2000). Penelitian ini diarahkan untuk
menilai keberhasilan manfaat, kegunaan, sumbangan dan kelayakan suatu program
kegiatan dari suatu unit/ lembaga tertentu. Penelitian evaluatif dapat menambah
pengetahuan tentang kegiatan dan dapat mendorong penelitian atau pengembangan
lebih lanjut, serta membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan
(Sukmadinata, 2005). Penelitian evaluatif dapat dirancang untuk menjawab
pertanyaan, menguji, atau membuktikan hipotesis. Makna evaluatif menunjuk pada
kata kerja yang menjelaskan sifat suatu kegiatan, dan kata bendanya adalah
evaluasi. Penelitian evaluatif menjelaskan adanya kegiatan penelitian yang
sifatnya mengevaluasi terhadap sesuatu objek, yang biasanya merupakan
pelaksanaan dan rencana. Jadi yang dimaksud dengan penelitian evaluatif adalah
penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang
terjadi, yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang
memerlukan evaluasi. Melakukan evaluasi berarti menunjukkan kehati-hatian
karena ingin mengetahui apakah implementasi program yang telah direncanakan sudah
berjalan dengan benar dan sekaligus memberikan hasil sesuai dengan harapan.
Jika belum bagian mana yang belum sesuai serta apa yang menjadi penyebabnya.
Penelitian evaluatif memiliki dua kegiatan utama yaitu
pengukuran atau pengambilan data dan membandingkan hasil pengukuran dan
pengumpulan data dengan standar yang digunakan. Berdasarkan hasil perbandingan
ini maka akan didapatkan kesimpulan bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu
layak atau tidak, relevan atau tidak, efisien dan efektif atau tidak. Atas
dasar kegiatan tersebut, penelitian evaluatif dimaksudkan untuk membantu
perencana dalam pelaksanaan program, penyempurnaan dan perubahan program,
penentuan keputusan atas keberlanjutan atau penghentian program, menemukan
fakta-fakta dukungan dan penolakan terhadap program, memberikan sumbangan dalam
pemahaman suatu program serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lingkup
penelitian evaluative dalam bidang pendidikan misalnya evaluasi kurikulum,
program pendidikan, pembelajaran, pendidik, siswa, organisasi dan manajemen.
Satu pengertian pokok yang terkandung dalam evaluasi adalah adanya standar,
tolok ukur atau kriteria. Mengevaluasi adalah melaksanakan upaya untuk
mengumpulkan data mengenai kondisi nyata sesuatu hal, kemudian dibandingkan
dengan kriteria agar dapat diketahui kesenjangan antara kondisi nyata dengan
kriteria (kondisi yang diharapkan). Penelitian evaluatif bukan sekedar
melakukan evaluasi pada umumnya. Penelitian evaluatif merupakan kegiatan
evaluasi tetapi mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku bagi sebuah penelitian,
yaitu persyaratan keilmiahan, mengikuti sistematika dan metodologi secara benar
sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan makna tersebut, penelitian
evaluatif harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Arikunto, 2006):
Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari
kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian ilmiah pada umumnya.
Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti berpikir
sistemik yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang
terdiri dan beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan antara satu sama
lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dan objek yang dievaluasi.
Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dan objek
yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai
factor penentu bagi keberhasilan program.
Menggunakan standar, kriteria, dan tolok ukur yang
jelas untuk setiap indikator yang dievaluasi agar dapat diketahui dengan cermat
keunggulan dan kelemahan program.
Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan
kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum
terlaksana, perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan
identifikasi sub komponen, dan sampai pada indikator dan program yang
dievaluasi.
Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah
rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut
secara tepat.
Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai
masukan/ rekomendasi bagi kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan.
Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus
berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, criteria, atau tolak
ukur.
B. BERDASAR
METODENYA
1.
Penelitian Historis
Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau
sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu. Data yang
dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian
pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang
dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau
dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada
kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.
Tujuan penelitian histonis adalah untuk membuat
rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan secara sistematis dan objektif,
dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifisi, serta mensintesiskan
bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.
Seringkali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis
tertentu.
Ciri yang menonjol dari penelitian historis adalah;
Penelitian historis lebih bergantung kepada data yang
diobservasi orang lain dari pada yang diobservasi oleh peneliti sendiri. Data
yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yang menganalisis keotentikan,
ketepatan, dan pentingnya sumber-sumbernya.
Berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian
historis haruslah tertib ketat, sistematis, dan tuntas; seringkali penelitian
yang dikatakan sebagai suatu “penelitian historis” hanyalah koleksi
informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel, dan berat sebelah.
“Penelitian historis” tergantung kepada dua macam
data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber
primer, yaitu Si peneliti (penulis) secara langsung melakukan observasi atau
menyaksikan kejadian-kejadian yang dituliskan. Data sekunder diperoleh dan
sumber sekunder, yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain yang satu
kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Di antara kedua sumber itu,
sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama,
dan diberi prionitas dalam pengumpulan data.
Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam
kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan
“apakah dokumen relik itu otentik”, sedang kritik internal menanyakan “Apabila
data itu otentik, apakah data tersebut akurat dan relevan?”. Kritik internal harus
menguji motif, keberatsebelahan, dan keterbatasan si penulis yang mungkin
melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan informasi yang
terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebabkan “penelitian historis” itu
sangat tertib-ketat, yang dalam banyak hal lebih dibanding dari pada studi
eksperimental.
Walaupun penelitian historis mirip dengan penelaahan
kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara
pendekatan historis adalah lebih tuntas, mencari informasi dan sumber yang
lebih luas. “Penelitian historis” juga menggali informasi-informasi yang lebih
tua dari pada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan, dan banyak juga
menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang
standar.
Langkah pokok untuk melaksanakan penelitian historis
sebagai berikut:
Definisi masalah.
Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin, rumuskan
hipotesis yang akan memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.
Kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan
antara sumber primer dan sumber sekunder.
Suatu keterampilan yang sangat penting dalam
penelitian historis adalah cara pencatatan data : dengan sistem kartu atau
dengan sistem lembaran, kedua duanya dapat dilakukan.
Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik
eksternal dan kritik internal.
Tuliskan laporan.
3.
Penelitian Observasional
Penelitin yang bertujuan untuk mengamati dan
mendeskripsikan gejala-gejala yang terjadi dalam (pada) fenomena natural
ataupun sosial, yang terjadi dalam tingkatan waktu tertentu, dan tidak dapat
dikendalikan oleh si peneliti, seperti perubahan iklim, pergerakan binatang,
pencemaran lingkungan, perubahan perilaku masyarakat, kriminalitas, dsb.
4.
Penelitian Eksperimental
Penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena
pada kondisi terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan
sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu.
Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan
eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan
fenomena seteliti mungkin. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan
model kuantitatif.
Berdasarkan sumber yang lain, penelitian berdasar
metodenya digolongkan menjadi:
1. Penelitian Survey
Penelitian yang dilakukan pada popolasi besar maupun
kecil, tetapi data yangdipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari
populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan
hubungan-hubungan antar variabel sosilogis maupun psikologis.
2. Penelitian Ex Post Facto
Yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti
peristiwa yang telah terjadi yang kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui
faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
3.
Penelitian Eksperimen
Yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh
variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol
secara ketat. Variabel independennya dimanipulasi oleh peneliti.
4.
Penelitian Naturalistic
Metode penelitian ini sering disebut dengan metode
kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi
obyek alami (sebagai lawannya) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci.
Contoh : Sesaji terhadap keberhasilan bisnis.
5. Policy
Reserach
Yaitu suatu proses penelitian yang dilakukan pada,
atau analisis terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga temuannya
dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertinak secara praktis
dalam menyelesaikan masalah.
6. Action
Research
Merupakan penelitian yang bertujuan untuk
mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat
ditekan dan produktifitas lembaga dapat meningkat. Tujuan utama penelitian ini
adalah mengubah: 1) situasi, 2) perilaku, 3) organisasi termasuk struktur
mekanisme kerja, iklim kerja, dan pranata.
7.
Penelitian Evaluasi
Merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan,
yaitu untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan dan produk dengan standar
dan program yang telah ditetapkan.
8.
Penelitian Sejarah
Berkenaan dengan analisis yang logis terhadap
kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu. Sumber datanya bisa primer,
yaitu orang yang terlibat langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber
dokumentasi yang berkenaan dengan kejadian itu. Tujuan penelitian sejarah
adalah untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan
Sumber:
https://shendud.wordpress.com/pendidikan/jenis-jenis-penelitian/
Pengawas Sekolah Pendidikan Menengah. 2008.
Pendekatan, Jenis, Dan Metode Penelitian Pendidikan
Abdulhamid. 2006. Jenis-jenis Penelitian.
http://abdulhamid.files.wordpress.com/…/materi_kuliah_3_19_feb_06.doc -.
Diakses 21 April 2011
Indiwan. 2007. Jenis-jenis penelitian.
http://indiwan.blogspot.com/2007/09/jenis–jenis–penelitian.html –, diakses 21
April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar